Artikel bmt itQan

UANG ITU ALAT BANTU BUKAN KOMODITAS Kamis, 10 September 2015 11:32 WIB
UANG ITU ALAT BANTU BUKAN KOMODITAS

Pernahkah anda membayangkan jika sampai sekarang kita masih menggunakan 
pertukaran barang dan tidak menggunakan uang sebagai alat bantu? 
Anda punya teh, tapi tidak punya kopi. Lalu anda ingin menukarkan teh 
anda dengan penjual kopi. Kebetulan orang yang punya kopi itu sedang
 perlu gula tidak perlu teh. Kemana anda akan membawa teh anda untuk 
ditukarkan? Atau misal yang lain anda ingin menyekolahkan putera anda, 
lalu anda bawa sagu ke sekolah sebagai bayarannya. Ternyata sekolahnya 
hanya perlu beras, bukan sagu. Padahal di daerah anda adanya ya sagu itu. 
Anda pasti akan kebingungan membayar biaya sekolah putera anda. 
Sekarang sadarkah anda tentang betapa pentingnya uang itu dalam kehidupan? 
Uang berfungsi sebagai alat ukur dan alat penilai.Anda tentu akan kebingungan 
memberikan “harga” pada barang anda jika tidak ada uang. Berapa Kg yang 
harus anda tukar dengan barang lain yang ingin anda miliki. Ini tidak perlu terjadi
 jika kita menggunakan uang sebagai alat tukar. Uang sangat memudahkan kita
 untuk memiliki sesuatu yang yang kita butuhkan tanpa terfikir apa yang dibutuhkan
 orang lain. Namun demikian, uang tidak dibutuhkan untuk uang itu sendiri, artinya
 uang diciptakan untuk memperlancar pertukaran dan menetapkan nilai yang
 wajar dari pertukaran tersebut. Menurut al-Ghazali, uang diibaratkan cermin yang tidak mempunyai warna, tetapi dapat 
merefleksikan semua warna, yang maksudnya adalah uang tidak mempunyai 
harga, tetapi merefleksikan harga semua barang, atau dalam istilah ekonomi klasik
 disebutkan bahwa uang tidak memberikan kegunaan langsung, yang artinya adalah
 jika uang digunakan untuk membeli barang, maka barang itu yang akan memberikan 
kegunaan.Pembahasan mengenai uang juga terdapat dalam kitab “Muqaddimah” 
yang ditulis oleh Ibnu Khaldun pada abad ke-14. Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa kekayaan suatu negara tidak ditentukan 
oleh banyaknya uang di negara tersebut, tetapi ditentukan oleh tingkat produksi
 negara tersebut dan neraca pembayaran yang positif. Apabila suatu negara 
mencetak uang sebanyak-banyaknya, tetapi bukan merupakan refleksi pesatnya pertumbuhan sector produksi,
 maka uang yang melimpah tersebut tidak ada nilainya. Sektor produksi merupakan 
motor penggerak pembangunan suatu negara karena akan menyerap tenaga kerja, 
meningkatkan pendapatan pekerja, dan menimbulkan permintaan (pasar) terhadap 
produksi lainnya.Menurut Ibnu Khaldun, jika nilai uang tidak diubah melalui 
kebijaksanaan pemerintah, maka kenaikan atau penurunan harga barang semata-mata akan ditentukan oleh kekuatan penawaran (supply) dan permintaan (demand),
 sehingga setiap barang akan memiliki harga keseimbangan. Misalnya, jika di suatu 
kota makanan yang tersedia lebih banyak daripada kebutuhan, maka harga makanan 
akan murah, demikian pula sebaliknya. Inflasi (kenaikan) harga semua atau sebagian
 besar jenis barang tidak akan terjadi karena pasar akan mencari harga keseimbangan
 setiap jenis barang, karena jika satu barang harganya naik, namun karena tidak 
terjangkau oleh daya beli, maka harga akan turun kembali.Merujuk kepada Al-Quran, al-Ghazali berpendapat bahwa orang yang menimbun uang adalah seorang penjahat,
 karena menimbun uang berarti menarik uang secara sementara dari peredaran. 
Dalam teori moneter modern, penimbunan uang berarti memperlambat perputaran uang. 
Hal ini berarti memperkecil terjadinya transaksi, sehingga perekonomian menjadi lesu. 
Selain itu, al-Ghazali juga menyatakan bahwa mencetak atau mengedarkan uang palsu lebih berbahaya
 daripada mencuri seribu dirham, karena mencuri adalah suatu perbuatan dosa, 
sedangkan mencetak dan mengedarkan uang palsu dosanya akan terus berulang 
setiap kali uang palsu itu dipergunakan dan akan merugikan siapapun yang menerimanya 
dalam jangka waktu yang lebih panjang.Menurut konsep ekonomi Syariah, uang adalah uang, 
bukan capital, sementara dalam konsep ekonomi konvensional, konsep uang tidak 
begitu jelas, misalnya dalam buku “Money, Interest and Capital” karya Colin Rogers, 
uang diartikan sebagai uang dan capital secara bergantian, sedangkan dalam konsep 
ekonomi Syariah uang adalah sesuatu yang bersifat flow concept dan merupakan 
public goods, sedangkan capital bersifat stock concept dan merupakan private goods. 
Uang yang mengalir adalah public goods, sedangkan yang mengendap merupakan
 milik seseorang dan menjadi milik pribadi (private good).Islam, telah lebih dahulu
 mengenal konsep public goods, sedangkan dalam ekonomi konvensional konsep
 tersebut baru dikenal pada tahun 1980-an seiring dengan berkembangnya ilmu 
ekonomi lingkungan yang banyak membicarakan
 masalah externalities, public goods dan sebagainya. Konsep publics goods tercermin
 dalam sabda Rasulullah SAW, yakni “Tidaklah kalian berserikat dalam tiga hal, kecuali air, 
api, dan rumput.”Persamaan fungsi uang dalam sistem ekonomi Syariah dan konvensional 
adalah uang sebagai alat pertukaran (medium of exchange) dan satuan nilai (unit of account),
 sedangkan perbedaannya ekonomi konvensional menambah satu fungsi lagi 
sebagai penyimpan nilai (store of value) yang kemudian berkembang menjadi “motif money
 demand for speculation” yang merubah fungsi uang sebagai salah satu komoditi perdagangan. 
Jauh sebelumnya, Imam al-Ghazali telah memperingatkan bahwa “Memperdagangkan uang ibarat memenjarakan 
fungsi uang, jika banyak uang yang diperdagangkan, niscaya tinggal sedikit uang yang 
dapat berfungsi sebagai uang.”Dengan demikian, dalam konsep Islam, uang tidak termasuk
 dalam fungsi utilitas karena manfaat yang kita dapatkan bukan dari uang itu secara langsung,
 melainkan dari fungsinya sebagai perantara untuk mengubah suatu barang menjadi barang 
yang lain. Dampak berubahnya fungsi uang dari sebagai alat tukar dan satuan nilai mejadi 
komoditi dapat kita rasakan sekarang, yang dikenal dengan teori “Bubble Gum Economic”.

Nisbah Deposito

Nisbah Simpanan Berjangka (SiJaka) untuk nasabah :
Jangka Waktu Nisbah Eq.Rate/per tahun
3 16% 9.6%
6 18% 10.8%
12 20% 12%
24 22% 13.2%

Simulasi Simpanan dan Deposito

  • Jenis Simpanan
    Jangka Waktu (Bulan)
    Nilai Simpanan Awal
    Nilai Simpanan Rutin (perbulan)
    Nisbah Bagi Hasil (%)
    Equivalent Rate (%)
    Estimasi Total yg Diterima


    Hasil yang diperoleh hanya simulasi, nilai sebenarnya bisa lebih kecil atau lebih besar

Financial Checkup

  • Cek Kesehatan Keuangan Anda disini

Anggaran Pendapatan Belanja Keluarga

  • Cek Anggaran Pendapatan Belanja Keluarga Anda disini

Statistik Pengunjung

bmt itQan Sosial Media
  • Join us on Facebook
  • Follow us on Twitter
Kantor bmt itQan

Jl Padasuka No. 160, RT 02 RW 03, Kelurahan Pasir Layung, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kotamadya Bandung

022 - 7209247 022 - 7203042